Timor, Kesederhanaan yang Indah

Home / Uncategorized / Timor, Kesederhanaan yang Indah

Timor, Kesederhanaan yang Indah

Sudah lama saya tidak melontarkan suatu kata apa pun di blog ini seakan saya melupakan dan mengabaikan keberadaannya. Saya merasa begitu sibuk padahal banyak waktu yang saya gunakan hanya untuk berpikir dan berkhayal tanpa melakukan apa pun yang seharusnya dapat saya pakai untuk menulis. Hari ini saya berada di dalam perpustakaan FKUI, duduk dekat jendela, dibakar panasnya matahari, serta sedikit sesak akibat pengapnya udara  karena ac yang sepertinya bermalas-malasan. Saya ingin menuliskan pengalaman 2 minggu saya di Timor tepatnya di Desa Anin, Kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Tanggal 9 Mei 2012, saya harus bangun pagi sekali, melawan kantuk, mengejar pesawat pertama yang akan berangkat ke Kupang, NTT. Nampaknya saya bangun terlalu siang dan sampai paling terakhir diantara teman-teman sekelompok saya. Untungnya, tidak sampai tertinggal pesawat yang terbang pada pukul 05.30! 1 Kelompok kami beranggotakan 8 orang, berangkat ke NTT dengan tujuan melakukan 2 penelitian yaitu penelitian mengenai hubungan budaya daerah dengan ibu hamil dan malaria, serta penelitian mengenai balita dan diare yang juga dikaitkan dengan kebudayaan daerah.

Perjalanan kami ke Kupang memakan waktu sekitar 3 jam dengan pesawat. Setelah mendarat, kami harus melanjutkan perjalanan ke desa Anin dengan bus, yang lagi-lagi memakan waktu cukup lama, sekitar 5 jam, yang sepanjang jalannya kami harus terus komat-kamit berdoa agar perjalanan dapat lancar dan selamat, mengingat jalan yang kami lalui banyak yang longsor, serta dengan lebar jalan yang pas-pasan untuk dilalui sebuah bus. Badan kami juga rasanya pegal-pegal karena kami harus ajrut-ajrutan akibat jalan yang rata-rata tidak layak, sudah rusak, penuh pasir, kerikil, dan batu.

Pada  pukul 7 malam di hari yang sama,  kami sampai di sebuah Yayasan di Desa Anin. Di tanah bagian depan tertancap papan bertulisan “Yayasan Balita Sehat Timor”. Tempat tersebut menjadi tempat tinggal kami selama 2 minggu berada di Desa Anin. Yayasan yang juga digunakan sebagai rumah singgah tersebut katanya merupakan tempat tinggal seorang raja pada masa lalunya. Ketika sampai, hal pertama yang saya lakukan, terus terang, adalah mengecek kamar mandi. Walaupun letaknya terpisah dari rumah dan harus melewati jalan setapak yang begitu gelapnya ketika malam, tetapi bersih dan layak. Air yang kami gunakan untuk keperluan mandi dan lain-lain diambil dari sumur yang berjarak tidak jauh, sekitar 10 meter.  Hari pertama kami habiskan untuk beristirahat dan bersantap malam sambil menanti dokter pembimbing kami, Dokter Trevino, yang kemudian datang pada pukul 11 malam. Kemudian kami berdiskusi untuk menentukan kegiatan yang akan kami laksanakan esok harinya.

Pada hari kedua, kami melakukan pengumpulan data untuk penelitian. Kami bekerja sama dengan pengurus desa untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita dari desa Nifuleo (daerah yang kami jadikan lingkup penelitian) di empat posyandu. Kami memecah diri menjadi 4 kelompok untuk betugas di masing-masing Posyandu. Saya mendapat tugas untuk berada di Pos2. Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi dengan asumsi akan sampai pada pukul 10. Namun ternyata terdapat satu halangan yaitu adanya sebuah truk yang terperosok akibat longsornya jalan sehingga satu-satunya jalan yang akan kami lalui terhalang mobil dan warga yang sedang bergotong royong (rasanya sudah lama sekali tidak melihat orang ber”gotong royong” dan juga  menggunakan kata “gotong royong” itu sendiri) untuk memindahkan truk tersebut. Akhirnya kami dapat melewati jalan tersebut setelah menunggu selama 1.5 jam dan khawatir kami sampai terlambat dan warga sudah menunggu.

Di pos 2 dikatakan ada 53 anak balita dan 9 ibu hamil. Namun sesampainya kami di pos tersebut, pukul 11.30, belum ada satu pun warga yang datang, hanya ada 2 kader kesehatan yang mendampingi kami. Kader tersebut mengatakan bahwa hari itu adalah hari pasar sehingga masyarakat masih berada di pasar dan akan datang lebih siang. Akhirnya sekitar pukul 12 siang, warga sudah mulai berkumpul. Saya bersama Didi, rekan saya membagi tugas untuk mewawancara dan melakukan pemeriksaan malaria pada ibu hamil serta pengukuran tinggi badan dan berat badan anak balita. Sayangnya, anak yang datang  pada hari itu hanya 15 orang dan ibu hamil yang datang hanya 6 orang. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh akses jalan yang kurang baik atau informasi yang kurang tersampaikan, entahlah. Selain memeriksa ibu hamil dan balita, kami juga melakukan wawancara terhadap bapak kepala desa dan kader-kader kesehatan, menanyakan mengenai pola hidup sehat warga desa Nifuleo serta program kesehatan yang sudah berjalan di sana. Dikatakan bahwa masyarakat sudah mulai memahami dan menjalankan hidup sehat, dan semenjak didapatnya penyuluhan mengenai diare dan malaria, angka kejadian penyakit tersebut di desa ini sudah berkurang secara signifikan. Namun dari hasil wawancara kami pada ibu dan balita, rata-rata dari mereka belum mengetahui apa yang dimaksud diare atau malaria. Bahkan banyak dari mereka tidak mengetahui malaria diperantari oleh nyamuk yang notabenenya penyakit tersebut sudah tidak asing bagi masyarakat Timor.

Seminggu pertama di Timor kami habiskan untuk mencari data penelitian di Puskesmas , deteksi ibu hamil dengan malari,  serta mendata anak dengan diare di Posyandu. Selain itu kami juga berdiskusi mengenai hasil temuan kami,serta tidak lupa makan 3x sehari, dengan mengemil di sela-selanya, dan bobo sore ditemani rintik-rintik hujan. (Alhamdulillah, akhirnya saya dapat merasakan apa yang disebut “waktu luang” dan beristirahat dengan tenang, berbeda sekali dengan hari-hari saya di Jakarta yang dipenuhi jadwal kuliah, koas, kerja seperti diburu waktu!! Tidak lupa juga banyak makan dan tidak olahraga yang menyebabkan peningkatan berat badan sebanyak 4kg dalam 2 minggu. Apalagi selama satu minggu tersebut, Timor dalam keadaan yang hampir selalu hujan sehingga kegiatan kami di luar sangat terbatas.)  Namun dari hari-hari tersebut saya semakin merasakan keindahan hidup “normal” sederhana serta semakin mensyukuri hal-hal kecil seperti udara yang sejuk, makanan berlimpah, dan air dingin yang jernih.

Dari hasil penelitian kami, banyak hal-hal menarik mengenai kebudayaan di Timor yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Misalnya, mengenai tradisi panggang di rumah bulat untuk ibu setelah melahirkan. Hampir seluruh masyarakat di desa Nifuleo memiliki rumah bulat. Rumah bulat tersebut digunakan untuk “memanggang” ibu setelah melahirkan selama 40 hari. Sang ibu akan tidur di atas tempat yang dibawahnya dinyalakan tungku api. Hal tersebut dipercaya dapat menghangatkan ibu dari udara dingin di luar serta menyehatkan ibu dan bayi. Selain itu, tradisi panggang juga dipercaya dapat mengusir nyamuk yang menyebabkan malaria. Selama 40 hari, sang ibu harus terus dipanggang dan hanya diizinkan meninggalkan tempat untuk ke kamar kecil atau gereja.

Sebagian besar penduduk desa ini bekerja sebagai petani dengan hasil tanam jagung, ubi kayu, padi, dan jeruk. Selain itu mereka juga berternak sapi, kambing, ayam, dan babi. Semakin banyak hewan  ternak mereka, semakin mengindikasi kesejahteraan mereka, begitu juga dengan banyaknya hewan peliharaan. Rata-rata masyarakat Timor memiliki peliharaan anjing. Namun saya iba melihatnya karena rata-rata anjing mereka kurus-kurus dan terlihat sangat kelaparan. Selain itu, seringkali anjing-anjing tersebut ditarik dan dipukul apabila berlaku tidak menyenangkan. 🙁 Rata-rata penghasilan penduduk di sana adalah sekitar 100.000 rupiah/bulan. Saya sangat kagum atas pernyataan mereka bahwa penghasilan tersebut cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mereka sangat bersyukur dan merasa hidup mereka diberkahi dan serba ada.

Masalah yang saya temukan di desa-desa TTS (Timor Tengah Selatan) yang paling signifikan adalah masalah jalan rusak dan longsor yang mengakibatkan banyaknya jalan putus. Saya berpikir bagaimana mungkin mereka akan rajin berkunjung ke Puskesmas ketika sakit dan harus melewati jalan-jalan seperti itu? Perlu diketahui bahwa perjalanan yang ditempuh rata-rata masyarakat untuk mencapai puskesmas kecamatan adalah sekitar 45 menit hingga 1.5-2 jam dengan berjalan kaki!! Jarak itu pula yang harus ditempuh ibu hamil untuk melakukan kontrol kandungan! Mereka jarang sekali menggunakan kendaraan umum seperti ojek untuk menuju ke puskesmas karena harganya yang cukup mahal sekitar 20.000 rupiah sekali jalan. Oleh karena itu, perlu adanya intervensi dari pemerintah (atau setidaknya pemerintah perlu tahu lebih dulu mengenai keadaaan jalan tersebut sehingga dapat dilakukannya suatu perbaikan.)

Selain masalah jalan, konsep mengenai arti sehat dan sakit pada masyarakat masih kurang baik. Mereka baru merasa sakit ketika mereka sudah tidak dapat beraktivitas dan bangun dari kasur (ketika keadaan sudah parah) dan baru datang ke pusat kesehatan untuk berobat. Mereka lebih cenderung untuk berobat sendiri secara tradisional atau pergi ke dukun sebelum mereka pergi ke puskesmas. Misalnya saja, untuk mengobati malaria, mereka meminum air rebusan daun pepaya sebagai obat.  Mereka juga percaya bahwa diare merupakan penyakit yang salah satunya disebabkan oleh ilmu dukun/guna-guna.

Dari hasil penelitian, kami mendapatkan bahwa angka kejadian malaria di desa Nifuleo masih tinggi dibandingkan angka kejadian malaria di seluruh Indonesia maupun di NTT Sendiri (desa Nifuleo adalah desa yang kami pilih untuk teliti karena berdasarkan penelitian sebelumnya di TTS, desa Nifuleo memiliki angka kejadian malaria dan diare yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya). Dari 14 ibu hamil yang kami periksa kami menemukan 2 orang yang positif malaria. Sedangkan dari penelitian anak diare, kami tidak menemukan 1 pun anak yang terkena diare dalam 2 minggu terakhir. Apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, penurunan ini sangat signifikan tetapi di satu sisi terasa janggal. Hal tersebut dikarenakan kurang baiknya pendataan anak yang terkena diare di pusat kesehatan. Namun turunnya angka tersebut mungkin juga dikarenakan sudah berjalannya program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang masyarakatnya sudah harus memiliki wc sendiri, larangan buang air besar sembarangan, serta pembudayaan cuci tangan. Berdasarkan penelitian WHO, program tersebut dapat menurunkan kejadian diare hingga 94%, tetapi penelitian di TTS, Indonesia menyatakan bahwa penurunan angka diare baru sekitar 26%.

Selain melakukan penelitian, kami juga berkunjung ke tempat-tempat indah di Timor. Kami berkunjung ke puncak gunung Babia, puncak Simo, air terjun Oehala, dan pantai Kolbano. Subhanallah!!!! Indah sekali!!! Perlu saya sampaikan bahwa dengan melihat ini semua, saya semakin cinta Indonesia, saya bangga menjadi penduduk Indonesia karena memiliki kekayaan alam yang mengagumkan. Benar-benar tidak perlu keliling dunia untuk merasakan indahnya alam. Keindahan ini sungguh tidak kalah dengan yang ada di negara lain. Saya berpikir bahwa kekayaan alam ini adalah satu berkah dari Tuhan yang seharusnya dijadikan peluang oleh pemerintah untuk mempromosikan Indonesia sebagai potensi wisata alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Selama tinggal di Desa Anin, kami selalu disajikan dengan menu makanan yang unik dan lezat. Makanan khas dari Timor favorit saya adaalah daging se’i. Daging se’i adalah daging asap yang diiris cukup tebal kemudian digoreng. Yum!! Selain itu hampir setiap hari saya makan bunga jagung (popcorn) yang juga merupakan cemilan khas dari Timor. Tidak jarang juga makanan yang disiapkan adalah nasi dengan lauk indomie (haha!) atau nasi dengan kecap kemudian digoreng. Karena udara dingin, metabolisme meningkat, sehingga saya terus merasa lapar, dan tidak dapat menolak makanan yang disajikan. Padahal Mas Wisnu (partner dlm management, sudah mengingatkan bahwa saya tidak boleh menggemuk, karena mau shooting sebentar lagi!) :p

3 hari sebelum kepulangan kami ke Jakarta, kami mengadakan program khitanan gratis. Sayangnya, tempat untuk pelaksanaa serta peralatan sterilsangat terbatas sehingga dalam seharinya kami hanya melaksanakan pada 8 pasien. Saya sendiri, melakukan 4 operasi hohoho. Alhamdulillah semua berjalan lancar walaupun harus bekerja di bawah tekanan pasien yang teriak-teriak atau menangis karena panik dan takut merasa sakit.

1 hari sebelum kepulangan ke Jakarta, yaitu pada tanggal 19 Mei 2012, kami berkunjung ke balai desa dan berkumpul di sana karena sedang dilaksanakannya upacara adat, syukuran akan pernikahan Dokter Trevino. Dokter Trevino merupakan pembimbing kami yang sudah membina desa ini sekitar 7 tahun. Saya salut akan konsistensi dari Dokter Trevino dalam membangun desa ini dan saya sangat terinspirasi akan hal tersebut. Bayangkan saja apabila ada sekitar 100 dokter seperti dokter Trevino dan masing-masing memiliki desa binaan, saya yakin Indonesia akan maju pesat dengan langkah seperti itu. Memiliki desa binaan adalah salah satu cita-cita saya selanjutnya. Setelah upacara selesai, kami melakukan sebuah tarian Timor yang bernama tari Bonet. Dalam tarian tersebut, seluruh tamu membentuk lingkaran dan bergandengan tangan sambil melakukan gerakan kaki yang sama sambil berputar. Seru 🙂 Semakin terasa keakrabannya! Akhirnya, tibalah saat kami berpisah. Kami diberi kenang-kenangan berupa kain tenun khas Timor yang indaaaaah sekali. Oh ya, senang sekali mendengar ternyata beberapa penduduk berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Fashion Week kemarin lho dalam memasarkan produk tradisional Timor!!  Bangga betul saya mendengarnya, ternyata mereka sudah melangkah sejauh itu, padahal status desa mereka adalah “desa sangat terpencil” 🙂 Saya rasa desa ini bisa dijadikan panutan oleh desa-desa lain.

Tibalah hari kepulangan, 20 Mei 2012. Siap menyambut hari-hari yang berbeda 180 derajat di Jakarta. Saya bersyukur merasakan pengalaman 2 minggu yang di dalamnya saya mendapatkan kebahagiaan yang diperoleh dari berbagai hal yang sederhana, sesuatu yang sudah tercipta indah tanpa sentuhan tangan manusia. 🙂 Saya semakin mensyukuri udara segar, tidur nyenyak tanpa ac, dan tanpa harus menghabiskan waktu untuk berdandan selama 2 minggu tersebut. Alhamdulillah, terimakasih Tuhan atas nikmat karuniaMu.

Love,

Mesty

Recent Posts
Showing 4 comments
  • raa
    Reply

    semoga mimpi ttg desa binaan tercapai. Ditunggu ceritanya ^^

  • voltairetalo
    Reply

    Mesty, tulisan mu membangkitkan optimisme saya sbagai putra daerah NTT, bahwa ada harapan buat tanah kelahiran saya..cita2 desa binaan merupakan harapan saya juga 🙂 terima kasih krna ada org2 sperti Mesty dan teman yang menyadari Axiologi dari ilmu pengetahuan…Salam 🙂

  • voltairetalo
    Reply

    oia satu lagi..BAE SONDE BAE TANA TIMOR LEBE BAE (Baik Tidak baik, tanah Timor lebih baik) :’)

  • Trevino Pakasi
    Reply

    Trims untuk apresiasinya. Mudah-mudahan makin banyak mahasiswa kedokteran yang bisa mendapatkan pengalaman dan menjadi dokter yang membangun bangsa.

Leave a Comment