Air Selokan

Home / Uncategorized / Air Selokan

Air Selokan

Jika aku boleh mengucap satu kata penuh keluh, aku akan mudah menemukan satu kata itu, tetapi apakah harus aku katakan, aku tak boleh mengeluh. Aku ceritakan saja betapa tadi malam ada benda-benda yang dulu hidup menjadi mati dan benda hidup yang masih tersiksa menjadi terlihat tak hidup, tragis sekali. Bahkan apa yang mereka alami tak lebih baik dari apa yang aku dan kamu sering lihat di teknologi itu , televisi. Oh cemas meliputiku membayangkan kejadian buruk yang mereka alami terjadi padaku.. Terimakasih Tuhan, dengan jalanku menuju pekerjaan ini, lebih dapat kulihat betapa semua manusia memiliki perkara masing-masing yang satu tak lebih baik dari yang lain, yang lain tak lebih buruk dari yang satu. Betapa beragam manusia-manusia ini, tak ada satu pun yang sama. Yang kutahu pasti Tuhan itu adil, sehingga siapa pun aku dan siapa pun kamu, harusnya kita selalu bersyukur.

Tak tidur lantas aku tertidur padahal kuingat betul ada ujian di hari itu aku pun terlambat seluruh mata memandang serba salah hingga akhirnya tak sempurna apa yang kukerjakan. Gugup aku kemudian tetapi dinyatakanlah aku lulus dan aku lega. Sekarang aku berada di atas tempat tidurku sambil makan bakso dan siap tidur lantas aku sambil pula membuka macbook dan kucari bacaan yang membuat hati tenang. Aku pun segera membuka blog yang diberitahukan oleh kerabatku, Mas Wisnu, yang berisikan puisi-puisi dari seorang kesukaanku, Sapardi Djoko Damono, dan terkejutlah aku….. puisi yang muncul pertama adalah Air Selokan yang kurang lebih berhubungan dengan apa yang aku kerjakan dan aku alami hari ini……. Begini isinya:

“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung.

— ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu — alangkah indahnya!”

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

 

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.

Recent Posts

Leave a Comment